Selasa, 16 Desember 2008

Gamang...

Aku tidak bisa bila tak melihatnya... aku tidak sanggup bila tidak merasakannya...aku tak biasa diantara benda benda aneh itu...antara hiruk makhluk besi itu...aku hanya bisa menikmati hidup dengan pelukan sepoinya dan sentuhan hangat cahayanya...tentu saja aku lebih suka mandi matahari daripada mandi keringat bercampur debu, menghirup racun polusi...tentu iya aku senang jika aku terbahak daripada tersenyum munafik...ngeri aku melihat rokok yang memuntung terlempar disembarang jalan, aku membayangkan jika ada solar atau bensin yang tumpah...??byarrrrrrrrrrr tentu habis sudah semua robot besi yang ada disitu...kemana seonggok daging yang ada di batok tempurung kepalanya yang dia sebut 'otak' itu...?? JAKARTA...how a 'amazing' u are...

Selasa, 09 Desember 2008

Cinta : Positive thinking.........5 sks


Sampai saat ini, aku belum menemukan apa itu cinta...apakah cinta itu ada di lawan jenis, keluarga, sejenis, makhluk hidup lainnya? atau apa...?? Bukan berarti juga kalau aku tidak tau arti cinta tapi aku tidak punya kasih sayang...KASIH SAYANG...??Apa itu artinya...?? entahlah...yah, banyak versi memang... versi orang orang pintar, bodoh, kaya, miskin, semua kalangan punya versi apa itu cinta....tapi aku....aku belum bisa memiliki definisi versikuku sendiri apa itu cinta...Yang kulakukan saat ini adalah, berbuat baik kepada semua orang tanpa pamrih dan berusaha selalu positif thinking terhadap semua orang...Yeeeee aku sedang belajar POSITIVE THINKING...aku sedang belajar privat dengan batinku sendiri, dengan mata pelajaran bernama 'positif thinking'...Kira kira sudah sebulan aku belajar, uh...tidak mudah tapi efeknya luar biasa...membuat sel sel diseluruh tubuh pun bekerja dengan riang...entah sampai kapan aku lulus di pelajaran ini...aku fikir, ini salah satu cabang dari pelajaran cinta...ya, aku akan membuat struktur apa itu cinta dengan versiku...

Selasa, 02 Desember 2008

Sebuah cerpen amatir....( Istri Ayahku...)


‘Istri Ayahku’
Aku tau dia cantik…aku tau dia pandai…aku suka padanya. Satu hal yang menarik dari dirinya menurutku, dia memiliki senyum yang indah yang membuat lelaki terpikat. Menurutku dia baik, dia tidak pernah jahat padaku dan kakakku. Dia wanita daerah yang memiliki kecerdasan di atas rata rata, dia cerdas. Dia memiliki aura positif dari kepintarannya dan cara dia bergaul, dia pandai berguyon, itu yang membuatku suka padanya. Saat umurku 13 tahun ayahku menikah dengannya. Dengan separuh restu dariku, ayahku melangsungkan pernikahan dan tanpa kehadiranku. Ayahku sempat mengenalkan dia satu kali kepadaku beberapa waktu sebelum menikah, tak ada fikiran negatif dalam otakku saat bertemu dengannya, aku hanya ingin ayahku tidak buru buru menikah. Itu saja.
Hanya kakakku dan sedikit keluarga ayahku yang datang saat pernikahan itu. Aku tidak merasakan apapun baik senang atau kesal ketika ayahku menikah. Datar. Tak lama setelah ayahku menikah aku bertemu lagi dengannya. Dia menjengukku di sekolah asramaku, ya aku tinggal di asrama sejak ibu kandungku meninggal. Dia datang dengan ayahku. Saat berbincang-bincang aku melihat luka goresan di lengan ayahku, ‘pa, tangannya kenapa..?’ tanyaku heran. ‘Ah, luka dikit doank, nggak apa apa’ jawabnya datar. ‘Oh, itu kena kuku ibu, ga sengaja kecakar’ jawab istri ayahku cepat. Aku tidak heran. Kita pun terus berbincang seperti sebuah keluarga normal. Aku menganjurkan kepada istri ayahku untuk menutup rambutnya sesuai ajaran agama, menutup aurat. Tak lama dia pun mengikuti saranku. Aku senang sekali. Aku merasa ayahku memilih pasangan hidup yang tepat. Dia menghargai usulku dan melaksanakanya.
Tak terasa tiga tahun sudah berlalu, aku lulus sekolah lanjutan pertama. Aku pulang ke rumah ayahku, namun sekarang sedikit berbeda karena ada istrinya. Tidak masalah buatku. Aku pun melanjutkan sekolah dekat rumahku. Ada yang janggal setelah dua bulan aku tinggal di rumah, ayahku sering bersitegang dengan istrinya. Bahkan piring piring pun melayang hancur sebagai pelampiasan kemarahan dia. Seumur hidupku aku tidak pernah melihat ayahku bertengkar dengan wanita manapun terutama ibu kandungku. Istri ayahku itu seringkali membentak ayahku dan ayahku hanya diam. Dinding pintu pun remuk karena tendangan kasar kakinya. Ayahku bahkan sering tidur di sofa karena dia tidak membuka pintu kamarnya untuk ayahku. Sungguh pemandangan yang sangat memilukan saat melihat ayahku melamun atau tertidur di sofa. Aku bingung harus berbuat apa. Aku rasa semuanya ini ada hubungannya saat aku bertanya tentang luka di lengan ayahku. Ayahku tidak pernah menjelek jelekkan dia atau berbicara apapun padaku atau kakakku tentang dia.
***
Malam hari saat aku, kakakku, dan asisten rumah tangga kami bersantai sambil menikmati acara TV, istri ayahku tiba dari kantor dengan menggunakan avanza merah milik ayahku. Dan tahukah kalian?? Ayahku menggunakan bis jika pergi ke kantor, dan butuh waktu 10 menit berjalan kaki untuk sampai di tempat pemberhentian bis. Saat istri ayahku masuk ke dalam rumah dia langsung menyuruh kami membeli lauk untuk makan malam. Kebetulan ayahku sedang dinas tugas ke luar kota. Aku sedikit malas malasan karena kami harus berjalan hampir 1 kilometer untuk mencapai warung makanan itu. ‘Ga usah belilah bu, masih ada lauk kok buat makan’ kataku padanya. ‘Udah sana beli…!!’ jawab ibuku dengan nada sedikit tinggi. Aku sangat terkejut, ini pertama kalinya dia membentakku. Ada yang janggal di dalam hatiku. Mengapa dia begitu ngotot nya menyuruh kami untuk pergi. Akhirnya kami pun pergi. Ketika sedang berjalan bersama,
‘Mba ika, sebenernya mba onah takuuut banget ngasih tau ini ke mba ika, tapi mba onah udah nggak tahan menutupi ini semua…’ ujar mba onah asisten rumah tanggaku dengan mimik ketakutan. ‘Ga apa apa kali mba…’ kata Icha kakakku. Aku menganggukkan kepala kepada mba onah menandai aku setuju dengan kakakku. ‘mmm…sebenernya ibu itu punya hubungan sama om fadli, temen kantornya kayaknya…’ jawab mba onah pelan. Oh my God, lututku lemas mendengarnya. Aku langsung terbayang wajah ayahku yang kelelahan saat bekerja membanting tulang mencari sesuap nasi untuk menghidupi kami dan memenuhi kebutuhan kami dan istrinya tanpa mengeluh sedikitpun. Aku belum bisa berkata apa apa, aku hanya diam terpaku mendengar kejujuran mba onah. ‘Om fadli sering ke rumah siang siang, dia suka ngasih uang ke mba onah, katanya buat jajan tapi jangan kasih tau siapa siapa kalau dia sering kesini…gitu mba…tapi saya kasian ngeliat bapak sama mba ika dan mba icha jadi saya cerita aja sama mba…’ cerita mba onah panjang lebar. ‘Tapi mba jangan kasih tau bapak ya kalo mba onah cerita gini, mba boleh cerita kalo mba onah udah berhenti kerja disini, ya mba…’ tambah mba onah mengiba. Kami bertiga terdiam. Sampai kami pulang ke rumah pun kami masih terdiam hanyut dengan fikiran masing masing.
***
Tiba di rumah, aku langsung masuk ke kamarku, aku tidak tahan menahan sesak karena air mata yang mendesak ingin keluar. Aku terpekur memikirkan apa yang terjadi di keluarga baruku ini.
Pukul 23.00
Aku belum bisa memejamkan mata sedikitpun, fikiranku kacau. Membayangkan bejadnya kelakuan istri ayahku, betapa teganya dia mengkhianati ayahku yang selalu sabar mengayominya, selalu setia mendampinginya, memenuhi kebutuhannya, menuruti nafsu duniawinya. Apapun ayahku lakukan untuk membahagiakannya. Tiba tiba aku mendengar keributan kecil di kamar ayahku, karena kamarnya berada di sebelah kamarku. Aku keluar. Dan aku mendengar suara gemericing piring yang bertemu sendok, seperti ada seseorang makan. Aku fikir tidak mungkin kalau istri ayahku makan di dalam kamar, aku rasa ada orang lain di dalam kamar selain dia. Aku kembali ke kamarku dengan rasa penasaran meliputi otakku.
***


Keesokan paginya, aku bersiap siap untuk berangkat sekolah. Ketika sarapan, terdengar suara tukang sayur keliling menawarkan dagangannya. Seperti biasa istri ayahku belanja terlebih dulu sebelum berangkat ke kantornya. Tapi ada yang aneh hari itu, pintu kamarnya dikunci ketika dia berbelanja ke depan rumah. Tidak ada yang tau selain aku kalau pintu kamarnya dikunci. Tiba tiba lampu di dalam kamar mati sendiri, padahal tidak ada orang di dalamnya, istri ayahku sedang belanja di luar. Tuhan, tolong aku…apa yang harus kulakukan, apakah aku harus katakan kepada ayahku semuanya?? Aku semakin yakin dengan apa yang telah dikatakan mba onah semalam. Tapi aku fikir, belum ada bukti bukti kuat untuk meyakinkan ayahku. Aku hanya berdoa dan terus berdoa agar Tuhan memberikan jalan terbaik buat ayahku dan keluargaku. Hari itu aku berangkat ke sekolah dengan fikiran yang campur aduk, kacau balau. Ayahku sedang bersusah payah mencari nafkah untuk kami, hingga harus sering keluar kota. Tapi apa yang telah dilakukan oleh istrinya, luar biasa memalukan. Dia menghambur hamburkan uang ayahku dan main dengan lelaki lain. Apa sebenarnya yang dicari olehnya…?? Kekayaan?? Kekuasaan?? Kenyamanan?? Apa kehangatan?? Atau mungkin kesenangan yang menjadi kebiasaan sehingga menjadi kepuasan tersendiri…?? Entahlah yang kufikirkan saat ini adalah apa yang harus aku lakukan untuk ketentraman dan kebahagiaan keluargaku…? Aku sangat kecewa padanya yang tadinya aku berharap dapat menjadi pendamping ayahku selamanya dan dapat membimbing dan menyayangi kami seperti anak kandungnya sendiri, namun semuanya hilang tak tersisa…rasa hormatku, sayangku, kekagumanku karena kepintarannya sirna sudah…yang ada hanya kesal dan marah kepadanya…betapa naïf nya aku melihat dia…wanita yang berpendidikan namun dengan moral nol besar…Kasihan ayahku, apa yang telah dia lakukan adalah aib besar bagi keluarga kami. Tidak ada yang bisa kulakukan selain bungkam.
***

Waktu terus bergulir, aku tetap diam tanpa bisa melakukan apa-apa. Berdosakah aku menutup aib ini…?? tapi jika aku membeberkan semuanya, apakah ada yang percaya padaku..?? Aku tidak memiliki bukti, aku hanya mencium ketidakberesan yang terjadi pada wanita itu…Aku hanya menduga - duga bahwa ada orang asing yang berani masuk ke rumah ayahku dan berbuat tidak senonoh.
Suatu sore aku jalan jalan ke sebuah pusat perbelanjaan bersama kakakku dan ayahku. Ibuku sedang pergi ke rumah orang tuanya. Saat kami makan di restoran siap saji, ‘pa, papa kenal om fadli ga..?’ tanyaku memberanikan diri. ‘Kenal...’ jawab ayahku. ‘Dia temen kantor ibu…’ tambahnya. Loh…?? Ayahku kenal..?? kok bisa…?? Aku penasaran, ‘papa kenal dimana…?’. ‘Papa pernah main ke rumahnya kok sama ibu, istrinya cantik banget…’. Gokil. Ayahku kenal baik sama orang asing itu ternyata. ‘Kenapa…?’ Aku terkejut. ‘oh…mm..ngga kok…’ jawabku gagap. Astaga, pandai sekali wanita itu menyembunyikan bangkainya fikirku dalam hati. Dia sengaja mengenalkan orang itu kepada ayahku dan ketika ayahku tidak ada di rumah dia bisa bermain hati dan berganti teman ranjang seenaknya. Aku tidak habis fikir memikirkan tingkah lakunya. Wanita yang menurutku pandai, supel dan mau menutup auratnya setelah menikah dengan ayahku ternyata ular berbisa.
***
Beberapa hari kemudian, ayahku bertengkar lagi dengannya. Aku dan kakakku hanya diam mendengarkan dan tidak bisa berbuat apa apa. Dan ketika malam hari aku dan kakakku membeli lauk untuk kami makan karena istri ayahku tidak masak disebabkan sedang bertengkar dengan ayahku. Dan mba onah tidak dikasih uang belanja. Aneh kan? Setelah aku sediakan lauknya di meja makan, kami masuk ke kamar masing masing dan ayahku sedang membeli rokok keluar. Beberapa saat kemudian…..


‘Ikaaaaaaa….kenapa ini berantakan banget…??!!’ Tanya ayahku sambil menunjuk ke meja makan. Aku terlonjak. Aku sadar sekali telah menyiapkan makanan dengan baik dan rapi. Apa mungkin kucing…?? Tidak mungkin. Tidak ada kucing di rumah kami. Pintu pun tertutup dari tadi. ‘Ga tau, pa…’ jawabku pelan. Ayahku langsung mengetuk pintu kamarnya yang dari tadi terkunci dan istrinya tidak keluar, entah apa yang dilakukannya mungkin mengeram telur cicak…ha..ha..Ayahku langsung menanyakan dengan sangat pelan, ‘Kamu tau kenapa meja makan bisa berantakan gitu..? lauknya tumpah semua ke meja…kamu kalau marah jangan gitu donk…hargain yang beli dan yang nyiapain…’ kata ayahku pelan kepada ibuku. ‘Siapa juga yang ngacak ngacak…!!’ jawab ibuku. Kami terdiam. Entahlah siapa yang sebenarnya yang mengacaukan meja makan. Mungkin kucing atau kucing garong…??
Semakin hari aku melihat dia semakin sesak dadaku mengingat penderitaan ayahku yang sering diremehkan, direndahkan, disepelekan, dibentak. Sampai pada suatu malam ayahku sedang duduk terdiam di ruang tamu, semua sudah tertidur kecuali aku, beliau memanggilku. ‘Ika, apabila ayah akan berpisah dengan ibu, apakah kamu setuju…?’ Tanya ayahku dengan tatapan sedih. Aku menghela nafas panjang. ‘ Sebenarnya itulah yang ika ingin katakan ke ayah dari dulu…Ika kasian ngeliat papa diginiin terus sama ibu…papa sering tidur di luar, padahal papa cape habis pulang kerja, ibu tega banget sih sama papa…’ kataku dengan hati hati memilih kata. Ayahku diam sesaat. ‘Baiklah, besok papa akan bicarakan sama keluarga dan kita bisa hidup tentram seperti dulu…’ ucap ayahku dengan senyum tertahan. Berat sekali beban ayahku, kini beliau harus menghadapi kenyataan pahit. Setelah ditinggal bundaku, beliau harus menjalani hidup menghadapi orang psikopat, menurutku. Wanita manis yang setelah sebulan menikah dengannya langsung menuntut mobil dan ingin dibelikan rumah oleh ayahku kini telah membuat ayahku menahan perasaan dan merasakan perihnya menghadapi wanita aneh dan ‘sakit’ itu. Dan…rahasia itu…bangkai itu tidak diketahui ayahku, aku tetap mengunci rapat mulutku sampai nanti aku merasa waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya. Fikirku, aku juga kasihan jika aku harus menambahkan beban fikiran ayahku, tentu sangat menyakitkan jika beliau mendengarnya. Biarlah wanita psikopat yang tidak mensyukuri keadaan dan selalu merasa tidak puas dengan hidup itu merasakan akibat balasan dari perbuatannya sendiri…Kami berusaha ikhlas…