Sewaktu mentari menggantung lelah dan terkulai ingin cepat cepat ke tempat peraduannya dan sewaktu manusia-manusia berjas----yang terlihat dari ketinggian masih tetap saja terlihat sama seperti semut hitam---bertaburan ingin cepat-cepat pulang juga ke sarang mereka meringkuk di atas kapuk...
Namun, wajah mungil di pojok pasar itu tetap terlihat muram, merah dan memelas. Dia masih berfikir kenapa ada rasa aneh dan perih di balik dadanya. Padahal dia sama sekali tidak menyentuh dadanya, tapi kenapa rasanya perih sekali? Apa karena debu yang terlalu banyak dihirupnya? Sehingga menjadikan dia sesak...Apakah asap hitam polusi itu mengendap di paru-paru nya?? Ah, sepertinya tidak...Bukan itu...Rasanya lain, aneh, tapi sepertinya bukan di bagian paru-paru, tapi agak ke bawah.Ya. Hati...Hatinya perih sekali seperti disayat silet, di tusuk jarum pentul, 'gak karuan'...
Dia mencoba berjalan, ikut bergabung dengan orang-orang pasar; tukang sayur, tukang ikan, tukang tempe, bahkan tukang baju pun ikut berkumpul mengerumun menghitung laba. Si tukang sayur tertawa senang menghitung uang hasil jualannya karena sayurnya habis terjual jadi dia tidak pusing memikirkan harus dikemanakan sayurnya yang tidak laku...Si tukang tempe tersenyum simpul menghitung penghasilannya yang semakin meningkat, ' hmmmmm sekarang orang orang sudah sadar kalau tempe itu sehat, janganlah makan ayam terus, bisa bisa kena flu burung manusia manusia bumi disini...Lihat badanku sehat karena makan tempe terus' ujarnya bangga sambil memamerkan badannya yang kurus namun terlihat segar.
Namun, beda dengan tukang ikan dan tukang baju, tukang ikan sedikit rugi karena sebagian ikannya membusuk karena telah 3 hari tak laku laku, jadi dia harus membuangnya...Sedangkan tukang baju menghela nafas panjang karena hanya 2 helai baju saja yang terjual hari ini. 'Mungkin belum musimnya orang beli baju kali ya...tunggu dah nak lebaran barulah orang orang tu beli baju, padahal kan penting juga tu baju, buat ganti ganti...' ujarnya merengut...Tidak ada yang sadar kalau ada wajah mungil terselip mencoba menarik perhatian ingin dihibur...
'Hai kawan...' ucap pemilik wajah mungil itu lirih. 'apakah kalian merasa perih disini saat dagangan kalian tidak habis terjual...? tanyanya sambil memegang dadanya. Semua orang disitu memandang heran ke arah bocah kecil itu, kemudian semua orang perlahan menggeleng menyatakan tidak setuju dengan apa yang ditanyakan bocah itu. Bocah itu langsung tertunduk lemas, 'Lalu, apakah kalian tau, kenapa ada rasa seperih ini di dunia, padahal aku tidak melakukan hal buruk, tapi aku merasakan perih di dalam dadaku...' ucapnya terbata. 'Mungkin kau terlalu banyak di jalan nak, udara disini kan kotor' kata tukang ikan. Semua ikut mengangguk. 'Iya, mungkin...' jawab bocah itu yang ternyata bernama Guruh. Lalu ia pun melanjutkan perjalanannya dengan langkah gontai. Rasa itu tak kunjung hilang darinya. Padahal ia ingin bekerja, tapi itu sangat mengganggunya membuat ia terpaku tak dapat berpikir dan tertegun tak berkutik.
Gruh terus berjalan ke arah barat pasar, keluar dari kerumunan menuju ke tempat yang lebih sepi, tapi dia terus mencari sosok yang bisa menjawab pertanyaannya.
Rabu, 29 Juli 2009
Minggu, 19 Juli 2009
lekuk manusia
Manusia memiliki lekuk tubuh masing masing yang berbeda,begitu pula pikirannya..lekuk pikiran manusia yang berbeda membuat kita susah menentukan sikap dan tindakan..kata orang, itulah tantangannya hidup dan kita harus adaptif, namun ketika seorang tidak bisa beradaptasi, siapa yang patut disalahkan?? Setiap hal seiring berjalannya waktu yang berjalan cepat,dari keadaan, tempat dan manusia pasti selalu berubah, nah. Disaat kapankah kita harus mengikuti keadaan untuk adaptif atau kita mencari keadaan yang adaptif dengan hati kita....
Langganan:
Postingan (Atom)