Rabu, 01 September 2010

day-----4

Day--4
Hari ini hari terakhir kami berada di pulau luar terindah ketempat di dunia ini. Kemarin, kami sudah booking travel untuk tour ke big buddha, phuket town, old city, wat chalong, danterakhir melihat sunset di promthep cape. Dengan membayar 600 baht per orang, menurut kami ini cukup murah. Kami akan dijemput pada pukul 14.00. Jadi, pada pagi hari, kami masih punya waktu untuk jalan ke pantai atau belanja ke carefour. Sebagian teman saya memilih berenang di hotel, sebagian belanja ke carefour yang katanya memang harga souvenirnya miring, sedangkan saya memilih berenang di pantai patong. Saya sangat menikmati hari terakhir saya di phuket, suasana pantai cukup ramai, terlihat beberapa orang berjemur sambil membaca buku, sebagian menikmati ombak dengan surfing. Setelah puas main di pantai, saya pulang ke hotel dilanjutkan dengan berenang di kolam renang hotel, haha.
Pukul menunjukkan 12.00 siang, kami segera bersiap-siap untuk dijemput dan menikmati hari ini. Kami dijemput oleh seorang bapak setengah baya dan kurang bisa berbahasa inggris, jadi kalau berbicara dengannya hanyalah berbicara isyarat. Tujuan pertama kami, ke pusat kaos khas thailand, seperti dagadu, nah kami disambut dengan ramah, dan berbahasa indonesia. Ini yang membuat kami kaget. Ternyata salah satu SPG nya pernah bekerja di Malaysia dan Indonesia, hem pantas Indonesia nya lancar sekali. “Saya suka dengan Indonesia,” kata salah satu SPG. Namun, tak lama sebelum kami pulang, ada turis lain dari asia juga, dan disambut dengan bahasa mereka pula. Wah, strategi marketing yang unik. Puas belanja kaos, kami menuju ke kota tua, bangunan-bangunan lama khas china berderet rapi dan terawat. Jauh sekali bila dibandingkan dengan kota tua di jakarta, kumuh dan terabaikan. Kami berfoto sebentar.


Kemudian kami diantar ke phuket town, pusat belaanja, saya seperti merasa di bandung tepatnya di king saat belanja di phuket town. Tapi, kami tidak lama disini, karena masih banyak tempat yang kita singgahi.
Setelah itu, kami diantar ke pusat oleh-oleh makanan, yaitu nut factory dimana disitu terdapat pabrik olahan kacang mede, manisan, dll.



Kemudian kami menuju pusat jewelry, dan coffee break, kami disediakan minuman teh, kopi, dsb.




Setelah puas, kami langsung menuju wat chalong, yaitu semacam candi khas buddha dengan tembok dan kubah berlapis emas, disini terdapat beberapa candi/temple sehingga seperti komplek, sebenarnya kita bisa masuk ke dalamnya, tapi sayang kami terlambat, gerbang ke temple sudah di tutup saat kami tiba disana. Jadi, kami hanya berputar sebentar dan mengabadikan diri.



Sekarang, saatnya tujuan utama kita. Big Buddha. Big buddha adalah patung buddha super besar yang dibangun di puncak bukit di wilayah wat chalong, tak jauh dari temple tadi, kami menanjak berliku-liku ke arah bukit. Proses pembuatan big buddha belum sempurna, masih dalam proses renovasi dan pembangunan sana sini untuk memanjakan pengunjung baik untuk berdoa maupun sekedar melihat-lihat. Dari puncak/big buddha kita bisa melihat pemandangan cantik pulau phuket yang terkenal dengan nama view point. Kami betah sekali disini, karena suasananya sejuk, tentram dan dikelilingi suasana yang menakjubkan. Di sisi kanan patung big buddha terdapat perkampungan biksu, saya sempat melongok penasaran melihatnya. Tampak begitu bersih dan asri di sekitar perumahan biksu.





Puas melihat-lihat dan berfoto-foto, kami langsung menuju tempat tujuan terakhir, karena matahari sudah hampir terbenam, kami pun bergegas. Promthep cape, adalah titik terindah tempat untuk melihat sunset, konon katanya kalau turis belum kesini maka belum dikatakan ke phuket. Julukan lain tempat ini adalah ujung dunia. Dimana kita melihat matahari dari puncak bukit. Foto di brosur ternyata tak berbohong, disini memang luar biasa cantik, tapi sekali lagi, sayang sekali, matahari masih malu-malu menunjukkan sinarnya, kami hanya melihat secercah semburatnya tanpa melihat sang surya utuh menyinari bumi thailand. Tapi sungguh, pemandangannya tetap luar biasa indah. Banyak pasangan mengabadikan gambarnya di tempat ini untuk prewedding photo nya. Salah satu pasangan tersebut dari Indonesia, karena terdengar bahasa yang tak asing ketika mereka mengobrol. Wuiii bikin ngiri aja, honeymoon disini ya? hehe. Tak terasa hari pun gelap, kami pun pulang ke hotel.

day---->3 Phuket

Day--- 3
Oke, hari ke tiga di phuket merupakan hari favorit kami juga. Hari ini kami memutuskan untuk tidak ikut tur apapun, karena kami masih sedikit trauma dengan ombak yang membuai kami hingga mabuk. Jadi, rencana hari ini adala sewa motor. Yeaayy. Kami turun dari hotel dan survey harga dengan beberapa tempat penyewaan motor. Ada banyak tempat penyewaan motor dengan beragam jenis motor, tadinya kami ingin naik scoopy, tapi ternyata harganya lebih mahal sekitar 200 baht perhari. Akhirnya kami mengambil yang termurah yaitu tepat di depan hotel seharga 140 baht 1 motor selama 24 jam. Termasuk murah, karena kami naiknya berdua, jadi masing masing orang hanya mengeluarkan 70 baht untuk keliling pulau dengan motor. Passport kami ditahan dan kita bisa membawa motor itu kemana saja tanpa stnk, hehe.

Berbekal peta dan kebersamaan, tujuan pertama kami tadinya ke big buddha, patung buddha superbesar di puncak bukit, tapi setelah dipikir-pikir, sepertinya jauh dan takut nyasar. Jadilah, kami pergi ke pantai patong utnuk water sport. Kami berhenti di ujung panta dan langsung diserbu oleh anak anak pantai, hulaaa. Mereka menawarkan berbagai macam water sport seperti jetski, banana boat, atau paracailing. Paracailing 1000 baht, jetski 800 baht. Hanya 6 teman saya yang main jetski, karena saya takut dengan ombak tinggi, hiiy. Jadi saya memutuskan untuk menyaingi bule-bule seksi yang berjemur di kursi malas. Hehe. Saya menikmati angin, matahari, bau asin, dan berbagai bahasa yang terdengar di kuping saya.




Oya, Hari itu adalah hari pertama bulan ramadhan, tapi saya tidak puasa karena kesiangan sahur, heuheu. Jadi, sambil menunggu teman-teman bermain, saya berjalan sendirian mencari nasi-red makanan pokok. Saya mencari rumah makan india atau arab yang menyediakan nasi, cukup jauh dan saya menemukannya di dalam gang sempit tapi restorannya cukup bagus dan harganya juga agak mahal. Ssstt ini pengalaman yang luar biasa bagi saya, berjalan sendirian di negara orang, tidak tau jalan, english pas-pasan, pake jilbab pula (hah? Hubungannya?) haha. Banyak yang menyapa saya dengan assalamuaalaikum, tapi dengan halus (tidak seperti di indonesia kebanyakan, isengnya) dan semua yang menyapa saya selalu mengira saya dari malaysia, tentu saja saya menjawab dengan cepat kalau saya dari Indonesia. Setelah mendapatkan nasi, teman-teman saya pun selesai bermain, saya menyempatkan diri untuk main ombak disini, wuhuu, kita menari di atas ombak. Kemudian tak lama kembali ke hotel.

Wuup, ternyata sesampai di hotel hujan turun cukup deras dan membuat jalan-jalan kami tertunda. Setelah solat ashar, kami pun melanjutkan jalan-jalan keliling pulau. Tapi, sebelumnya kami booking paket tur-darat buat besok persis di depan hotel. Setelah itu kami menyusuri jalan yang tak tentu, yang penting jalan-jalan! Lalu, kami singgah ke toko/pasar di pinggir pantai, toko-toko ini sekilas seperti malioboronya jogja, sepanjang jalan dipenuhi toko baju, cinderamata, aksesoris,restoran, dll. Kami memarkir motor di pinggir jalan. Oya, disini tidak perlu takut maling motor, yang penting kita parkir pada tempatnya, dan juga tidak ada tukang parkir, alias gratees. Kami pun berbelanja oleh-oleh sampai malam.




Kami kemudian main di pantai menikmati sunset, tapi mataharinya malu-malu, agak mendung juga, lalu kami pun sempat mampir ke McD numpang berteduh dan membeli eskrim, karena malamnya gerimis. Setelah reda, kami kembali ke hotel untuk mandi. Malamnya, kami melanjutkan perjalanan kami, tanpa lelah.hihi. Tujuan kami sekarang adalah bangla road. Bangla road adalah jalanan khusus untuk pejalan kaki, motor dan mobil tidak boleh melintas disitu. Di sepanjang jalan terdapat bar-bar, band performance, striptease, pusat waria! Tadinya saya penasaran dengan apa yang ada disini, hasilnya saya merinding saat mulai masuk ke jalananya. Musik berdentum keras, laki-perempuan, perempuan-laki, laki-laki,perempuan-perempuan, berpasang-pasangan, payudara, paha, bottom, semua campur aduk disini membuat saya pusing. Tapi ini realita unik yang baru pernah saya temui, hehe. Kami sempat berfoto-foto, kemudian memotret suasana, memotret penari striptease, memotret apa saja. Waria disini cantik luar biasa, mengalahkan wanita tulen, dengan body aduhai, rambut hitam panjang dan kaki mulus, sulit membedakan mana wanita tulen dengan waria disini. Teman saya sempat berfoto dengan salah satu waria cantik disini dengan membayar 100 baht per orang, daaaannn waria itu menarik tangan teman saya untuk memegang payudaranya.





 to be continue....