Rabu, 01 September 2010

day-----4

Day--4
Hari ini hari terakhir kami berada di pulau luar terindah ketempat di dunia ini. Kemarin, kami sudah booking travel untuk tour ke big buddha, phuket town, old city, wat chalong, danterakhir melihat sunset di promthep cape. Dengan membayar 600 baht per orang, menurut kami ini cukup murah. Kami akan dijemput pada pukul 14.00. Jadi, pada pagi hari, kami masih punya waktu untuk jalan ke pantai atau belanja ke carefour. Sebagian teman saya memilih berenang di hotel, sebagian belanja ke carefour yang katanya memang harga souvenirnya miring, sedangkan saya memilih berenang di pantai patong. Saya sangat menikmati hari terakhir saya di phuket, suasana pantai cukup ramai, terlihat beberapa orang berjemur sambil membaca buku, sebagian menikmati ombak dengan surfing. Setelah puas main di pantai, saya pulang ke hotel dilanjutkan dengan berenang di kolam renang hotel, haha.
Pukul menunjukkan 12.00 siang, kami segera bersiap-siap untuk dijemput dan menikmati hari ini. Kami dijemput oleh seorang bapak setengah baya dan kurang bisa berbahasa inggris, jadi kalau berbicara dengannya hanyalah berbicara isyarat. Tujuan pertama kami, ke pusat kaos khas thailand, seperti dagadu, nah kami disambut dengan ramah, dan berbahasa indonesia. Ini yang membuat kami kaget. Ternyata salah satu SPG nya pernah bekerja di Malaysia dan Indonesia, hem pantas Indonesia nya lancar sekali. “Saya suka dengan Indonesia,” kata salah satu SPG. Namun, tak lama sebelum kami pulang, ada turis lain dari asia juga, dan disambut dengan bahasa mereka pula. Wah, strategi marketing yang unik. Puas belanja kaos, kami menuju ke kota tua, bangunan-bangunan lama khas china berderet rapi dan terawat. Jauh sekali bila dibandingkan dengan kota tua di jakarta, kumuh dan terabaikan. Kami berfoto sebentar.


Kemudian kami diantar ke phuket town, pusat belaanja, saya seperti merasa di bandung tepatnya di king saat belanja di phuket town. Tapi, kami tidak lama disini, karena masih banyak tempat yang kita singgahi.
Setelah itu, kami diantar ke pusat oleh-oleh makanan, yaitu nut factory dimana disitu terdapat pabrik olahan kacang mede, manisan, dll.



Kemudian kami menuju pusat jewelry, dan coffee break, kami disediakan minuman teh, kopi, dsb.




Setelah puas, kami langsung menuju wat chalong, yaitu semacam candi khas buddha dengan tembok dan kubah berlapis emas, disini terdapat beberapa candi/temple sehingga seperti komplek, sebenarnya kita bisa masuk ke dalamnya, tapi sayang kami terlambat, gerbang ke temple sudah di tutup saat kami tiba disana. Jadi, kami hanya berputar sebentar dan mengabadikan diri.



Sekarang, saatnya tujuan utama kita. Big Buddha. Big buddha adalah patung buddha super besar yang dibangun di puncak bukit di wilayah wat chalong, tak jauh dari temple tadi, kami menanjak berliku-liku ke arah bukit. Proses pembuatan big buddha belum sempurna, masih dalam proses renovasi dan pembangunan sana sini untuk memanjakan pengunjung baik untuk berdoa maupun sekedar melihat-lihat. Dari puncak/big buddha kita bisa melihat pemandangan cantik pulau phuket yang terkenal dengan nama view point. Kami betah sekali disini, karena suasananya sejuk, tentram dan dikelilingi suasana yang menakjubkan. Di sisi kanan patung big buddha terdapat perkampungan biksu, saya sempat melongok penasaran melihatnya. Tampak begitu bersih dan asri di sekitar perumahan biksu.





Puas melihat-lihat dan berfoto-foto, kami langsung menuju tempat tujuan terakhir, karena matahari sudah hampir terbenam, kami pun bergegas. Promthep cape, adalah titik terindah tempat untuk melihat sunset, konon katanya kalau turis belum kesini maka belum dikatakan ke phuket. Julukan lain tempat ini adalah ujung dunia. Dimana kita melihat matahari dari puncak bukit. Foto di brosur ternyata tak berbohong, disini memang luar biasa cantik, tapi sekali lagi, sayang sekali, matahari masih malu-malu menunjukkan sinarnya, kami hanya melihat secercah semburatnya tanpa melihat sang surya utuh menyinari bumi thailand. Tapi sungguh, pemandangannya tetap luar biasa indah. Banyak pasangan mengabadikan gambarnya di tempat ini untuk prewedding photo nya. Salah satu pasangan tersebut dari Indonesia, karena terdengar bahasa yang tak asing ketika mereka mengobrol. Wuiii bikin ngiri aja, honeymoon disini ya? hehe. Tak terasa hari pun gelap, kami pun pulang ke hotel.

day---->3 Phuket

Day--- 3
Oke, hari ke tiga di phuket merupakan hari favorit kami juga. Hari ini kami memutuskan untuk tidak ikut tur apapun, karena kami masih sedikit trauma dengan ombak yang membuai kami hingga mabuk. Jadi, rencana hari ini adala sewa motor. Yeaayy. Kami turun dari hotel dan survey harga dengan beberapa tempat penyewaan motor. Ada banyak tempat penyewaan motor dengan beragam jenis motor, tadinya kami ingin naik scoopy, tapi ternyata harganya lebih mahal sekitar 200 baht perhari. Akhirnya kami mengambil yang termurah yaitu tepat di depan hotel seharga 140 baht 1 motor selama 24 jam. Termasuk murah, karena kami naiknya berdua, jadi masing masing orang hanya mengeluarkan 70 baht untuk keliling pulau dengan motor. Passport kami ditahan dan kita bisa membawa motor itu kemana saja tanpa stnk, hehe.

Berbekal peta dan kebersamaan, tujuan pertama kami tadinya ke big buddha, patung buddha superbesar di puncak bukit, tapi setelah dipikir-pikir, sepertinya jauh dan takut nyasar. Jadilah, kami pergi ke pantai patong utnuk water sport. Kami berhenti di ujung panta dan langsung diserbu oleh anak anak pantai, hulaaa. Mereka menawarkan berbagai macam water sport seperti jetski, banana boat, atau paracailing. Paracailing 1000 baht, jetski 800 baht. Hanya 6 teman saya yang main jetski, karena saya takut dengan ombak tinggi, hiiy. Jadi saya memutuskan untuk menyaingi bule-bule seksi yang berjemur di kursi malas. Hehe. Saya menikmati angin, matahari, bau asin, dan berbagai bahasa yang terdengar di kuping saya.




Oya, Hari itu adalah hari pertama bulan ramadhan, tapi saya tidak puasa karena kesiangan sahur, heuheu. Jadi, sambil menunggu teman-teman bermain, saya berjalan sendirian mencari nasi-red makanan pokok. Saya mencari rumah makan india atau arab yang menyediakan nasi, cukup jauh dan saya menemukannya di dalam gang sempit tapi restorannya cukup bagus dan harganya juga agak mahal. Ssstt ini pengalaman yang luar biasa bagi saya, berjalan sendirian di negara orang, tidak tau jalan, english pas-pasan, pake jilbab pula (hah? Hubungannya?) haha. Banyak yang menyapa saya dengan assalamuaalaikum, tapi dengan halus (tidak seperti di indonesia kebanyakan, isengnya) dan semua yang menyapa saya selalu mengira saya dari malaysia, tentu saja saya menjawab dengan cepat kalau saya dari Indonesia. Setelah mendapatkan nasi, teman-teman saya pun selesai bermain, saya menyempatkan diri untuk main ombak disini, wuhuu, kita menari di atas ombak. Kemudian tak lama kembali ke hotel.

Wuup, ternyata sesampai di hotel hujan turun cukup deras dan membuat jalan-jalan kami tertunda. Setelah solat ashar, kami pun melanjutkan jalan-jalan keliling pulau. Tapi, sebelumnya kami booking paket tur-darat buat besok persis di depan hotel. Setelah itu kami menyusuri jalan yang tak tentu, yang penting jalan-jalan! Lalu, kami singgah ke toko/pasar di pinggir pantai, toko-toko ini sekilas seperti malioboronya jogja, sepanjang jalan dipenuhi toko baju, cinderamata, aksesoris,restoran, dll. Kami memarkir motor di pinggir jalan. Oya, disini tidak perlu takut maling motor, yang penting kita parkir pada tempatnya, dan juga tidak ada tukang parkir, alias gratees. Kami pun berbelanja oleh-oleh sampai malam.




Kami kemudian main di pantai menikmati sunset, tapi mataharinya malu-malu, agak mendung juga, lalu kami pun sempat mampir ke McD numpang berteduh dan membeli eskrim, karena malamnya gerimis. Setelah reda, kami kembali ke hotel untuk mandi. Malamnya, kami melanjutkan perjalanan kami, tanpa lelah.hihi. Tujuan kami sekarang adalah bangla road. Bangla road adalah jalanan khusus untuk pejalan kaki, motor dan mobil tidak boleh melintas disitu. Di sepanjang jalan terdapat bar-bar, band performance, striptease, pusat waria! Tadinya saya penasaran dengan apa yang ada disini, hasilnya saya merinding saat mulai masuk ke jalananya. Musik berdentum keras, laki-perempuan, perempuan-laki, laki-laki,perempuan-perempuan, berpasang-pasangan, payudara, paha, bottom, semua campur aduk disini membuat saya pusing. Tapi ini realita unik yang baru pernah saya temui, hehe. Kami sempat berfoto-foto, kemudian memotret suasana, memotret penari striptease, memotret apa saja. Waria disini cantik luar biasa, mengalahkan wanita tulen, dengan body aduhai, rambut hitam panjang dan kaki mulus, sulit membedakan mana wanita tulen dengan waria disini. Teman saya sempat berfoto dengan salah satu waria cantik disini dengan membayar 100 baht per orang, daaaannn waria itu menarik tangan teman saya untuk memegang payudaranya.





 to be continue....

Rabu, 18 Agustus 2010

day-2 to phuket

Day----------2

Waktu terasa lambat disini saat menunggu keesokan harinya, karena kami akan pergi menyebrang ke pulau phiphi dan pulau cantik di sekitarnya. Kami dijemput minibus pada pukul 7.30, saleswoman kemarin menjanjikan kalau kita akan berangkat hanya ber-8 dengan minibus dan speedboat pribadi, tapi ternyata mengecewakan, dalam minibus kami ber 15 dengan 4 orang india, dan 3 orang korea/taiwan (sok tau). Oya, di phuket, selain di dominasi turis asing berkulit kuning banyak juga orang india. Rata-rata penjual di pasar/toko, penjualnya adalah orang india. Kemudian, kami sampai di pelabuhan pemberangkatan, ternyata kami akan pergi dengan 40 orang lainnya dalam satu speed boat. Setelah menunggu beberapa saat dan di briefing di salah satu pondok, kami pun berangkat dengan speed boat putih, dengan tour guide wanita bernama jenny, dan kapten/supir brewokan yang terlihat tangguh.

Saya kebagian duduk di depan persis belakang sang kapten, saya sempat melihat sang kapten komat-kamit membaca doa cukup lama sebelum berangkat. Menit pertama saya tidak betah duduk disitu karena tidak bisa melihat pemandangan keluar. Setelah salah satu teman saya maju ke depan dek terbuka speed boat saya pun membuntutinya, penasaran dengan angin dan lukisan alam di luar. Ternyata lebih indah dan nikmat disini. Kami bersama beberapa orang ‘bule’ disini menikmati angin dan lajunya speed boat. Eits tunggu dulu, ternyata sensasi duduk di dek depan belum terasa, sesaat setelah agak ke tengah laut, selain pemandangan indah kami yang duduk di depan diguncang ombak tinggi, terasa dibanting-banting, mungkin seperti naik kora-kora ya di dufan. Bedanya, kora-kora hanya 10 menitan, kalo ini hampir 2jam an sport jantungnya, luarrr biasa. Tubuh kami melantung-lantung dibuatnya seperti ommelete. Saya berusaha untuk bertahan dan menikmati sensasi ini yang tidak bisa dirasakan dari dalam boat. Kami yang berada di depan berteriak-teriak histeris ketika boat diterjang ombak. Wohoooo. Sepertinya kami jadi tontonan menarik penumpang dari dalam boat. Lama kelamaan, kami berguguran satu per satu kembali ke dalam boat. Saya merasa lelah dipermainkan ombak, juga cape ketawa. Saya pun menyerah dengan badan lemas kembali ke dalam. Tak lama kemudian, ombak ternyata semakin tinggi, kami terus melantung-lantung. Dalam hati saya berjanji tidak akan mau lagi dipermainkan ombak, sakit.

Tak lama, kami pun tiba di pulau phiphi, indah dan cantik sekali. Padahal saat tiba disana, hujan gerimis menyambut, tapi tak mengurangi pesonanya. Kami pun langsung berlari, main pasir, menyatu dengan ombak sambil tentu saja mengabadikannya ke dalam kamera. Tapi sayang, disini kita tidak lama, kami harus mengunjungi beberapa pulau lagi.

Hanya 40 menit disini, kami pun bergegas mengunjungi maya bay, monkey island, beruntung kami bisa melihat monyet dari dekat, karena terkadang monyet-monyet disini masuk ke dalam hutan. Setelah itu kami pun ber snorkel ria. Menurut saya, karang Indonesia jauh lebih bagus dari pada disini, karangnya terlihat biasa dan ikan-ikannya pun tidak terlalu beragam, tapi kami cukup menikmati airnya yang bersih tanpa sampah sedikitpun. Snorkeling pun hanya sebentar karena banyak yang tidak puas dengan karang disini, kami pun menuju ke pulau dimana kita makan siang dan bermain di pantai. Di pulau ini, kita makan bersama ratusan pengunjung lainnnya, makananaya cukup enak dan beragam dan pastinya halal. Selain itu, ada counter penjual oleh-oleh yang saya kira mahal, tapi belakangan saya tau, di pulau ini harga cinderamata cukup murah asal pintar menawar. Kami tidak beli apa-apa karena takut kemahalan dan kami pun agak repot karena dalam keadaan basah.

Tujuan terakhir kami, ke kay island. Dalam perjalanan ke kay island kami mengalami hal yang tidak akan terlupakan, karena ombak yang sangat tinggi, boat kami terguncang hebat, hujan deras dan sedikit petir, awan gelap sangat menyeramkan. Mungkin seperti badai. Penumpang yang tadi tertawa terbahak pun berkurang karena suasana yang mencekam. Saya komat-kamit membaca semua doa yang saya bisa. Tidak bisa lagi bergerak banyak, hanya duduk tegang mencengkeram tali untuk berpegangan. Menunduk. Takut. “Mama, gue gak mau abis disni” teriak salah satu teman saya. Membuat saya tambah tegang. Cukup lama kami dipermainkan ombak dengan awan hitam menggantung seolah akan menimpa kami. Syukurlah, sang kapten cukup lihai menaklukan ombak dengan wajah kerasnya. Cukup lama kami pun tiba di kay island dan meninggalkan awan hitam disana. Disini kami bisa agak berlama-lama menikmati pasir dan matahari. Menurut jenny, tour guide kami, kay artinya ommelete, kalau dilihat dari udara pulau ini terlihat telur. Kay island tidak terlalu besar, namun sangat cantik dan bersih, disini serba bayar, kursi santai, WC, makan, kecuali foto-foto. Saya pun langsung nyebur dan kami foto-foto sepuasnya disini.


Waktu telah menunjukkan 16.00, waktunya pulang ke pelabuhan tadi. Boat pun melaju tanpa ada satu orang pun di dek depan. Tapi, tak lama gadis bule maju ke depan sendirian, hebat. Pengalaman luar biasa hari ini, rasanya lebih lama di perjalanan, di laut, daripada main di pantai, haha. Tapi kami tetap menikmatinya, luar biasa lukisan alam ciptaan Tuhan.
Sesampai di hotel, kami beristirahat dan kemudian turun untuk makan malam. Kami berjalan ke arah kanan ujung jalan, dan kami pun menemukan gerobak yang menjual gorengan, yang nantinya menjadi favorit jajanan kami disini. Ada 2 gerobak penjual, yang satu menjual porks, yang satu no porks. Pelajaran kedua, bagi muslim, setiap membeli makanan disini haruslah menanyakan : porks or no porks? Kami langsung menyerbu jajanan murah meriah seharga 10 baht ini, ada ikan, ayam, sapi di olah dan kemudian ditusuk seperti sate. Kemudian dicelupkan ke kuah sambel yang rasanya asem-asem pedes gurih. Enak. Setiap malam sampai pulang kami selalu mampir kesini utnuk membeli berbagai macam sate ini.

Oya, hal pertama yang harus dicontoh masyarakat indonesia. Penjual disini sangat jujur dan ikhlas, penjual satu dengan jujur mengatakan makanan yang dijualnya mengandung babi jadi beli di sebelah saja. Sehingga kami semua beralih ke gerobak sebelahnya, dan penjual itu pun tetap tersenyum meilhat kepergian kami. Hal kedua, tidak ada satupun penjual yang sembarangan membuang sampah, area gerobak jualannya tetap bersih tanpa bekas sedikitpun. Mereka berjualan pada malam hari, namun pada siangnya tidak ada sisa sampah atau minyak yang bertebaran. Begitu juga penjual di pinggir pantai. Para penjual mengumpulkan dan memungut sampah di sekitar pantai dengan kesadaran masing-masing, sehingga pantai tetap terjaga kebersihannya. Hal ketiga, supir minibus tidak mau menerima tip. Kami sempat terkejut dan kagum dengan supir bandara-hotel kami yang menolak tip dari kami dan tetap semangat membantu membawakan barang kami.

Selasa, 17 Agustus 2010

amazing trip to Phuket, Thailand

Day................1



Alhamdulillah, Puji Syukur, saya dan 7 teman berkesempatan berlibur ke pulau tempat syutingnya bang leonardo dicaprio (the beach) di phuket-thailand pada tanggal 9 -13 agustus 2010. Kebetulan kami mendapatkan tiket promo, cukup murah tapi lumayan ngos-ngosan juga ngumpulin uang sakunya ;p
Saya akan coba menceritakan secara detail bagaimana lika-liku perjalanan kami, semoga bisa menjadi bahan pelajaran, pedoman jalan kesana, atau hiburan semata, mudahan gak membosankan.


Kami booking tiket sekitar 4/5 bulan sebelumnya dan berangkat pada tanggal 9 agustus pkul 11.10 pagi, malamnya kami packing dan prepare semaksimal mungkin dengan berbekal nekad dan info dari google dan blog2 orang saja. Paginya kami berangkat pukul 07.30 dari bekasi dan terjebak macet di tol karena hari senin. Cukup lama kami stuck di tol dengan perasaan waswas ketinggalan pesawat. Syukurlah beberapa lama kemudian mobil kami bisa berjalan lancar. Sampai di bandara, kami masih harus menunggu satu orang lagi teman kami, setelah lengkap kami segera check in dan masing2 bayar airport tax Rp.150.000 (untuk pulang) karena airport tax perginya sudah dibayar online. Kemudian kami terlebih dahulu mengurus bebas fiskal di counter bebas fiskal dengan hanya menunjukkan NPWP, boardingpass,dan passport (bagi yang sudah berumur 21 tahun), bagi yang belum berumur 21 tahun cuma ditanya, 'umurnya berapa?' dan akan langsung di stempel lolos bebas fiskal. Ternyata di luar perkiraan kami, urusan fiskal ini dipermudah dan sangat cepat, petugas disini sempat tertawa geli karena melihat kami berisik dan panik, khawatir tidak lolos dan bayar fiskal 2 juta, haha. Setelah lega, kami bergegas melewati pemeriksaan2 barang bawaan dan passport. Ternyata... pesawat akan berangkat 5 menit lagi, kami pun lari pontang panting mengejar gate keberangkatan. Tapi, pas pemeriksaan terakhir, saya yang membawa bekal makanan 1 tas lupa dititipkan ke bagasi, jadilah saya buru-buru memasukkan ke tas teman saya yang kosong, dan komputer pun berbunyi, tiiiiiiit. Karena tidak boleh membawa makanan ke kabin pesawat, namun saya beruntung, teman saya yang satu lagi yang jadi ‘tumbal’ petugas mengira tas dialah yanga da cairan, makanan atau sesuatu. Jelas teman saya menolak tidak membawa apa-apa. Namun, karena sudah sangat terlambat dan pintu pesawat akan ditutup, petugas pun meloloskan kami dengan wajah datarnya. Kami berlari sekencang-kencangnya, dan kami adalah penumpang terakhir yang masuk pesawat! Kacau, jangan dicontoh bagian ini ; berangkatnya mefett..! Setelah di pesawat dengan napas terengah-engah, kami tetap tidak bisa tidur karena terlalu excited dengan pulau satu ini. Sekitar 2 jam 30 menit, tampak dari jendela pesawat, pulau dengan dikelilingi pantai biru, dan bukit-bukit indah, yang konon katanya phuket yang memang artinya bukit. Phuket = bukit. Luar biasa indah, namun cuaca disana sedang tidak terlalu cerah, berawan tapi tetap mempesona. Sesaat kemudian pesawat kami mendarat dengan agak sedikit kasar ya, ‘kayak naik metromini’ salah satu teman saya nyeletuk.
Kami sampai dengan selamat di international phuket airport, dan belum tau naik apa ke hotel. Sesampai di bandara, kami disambut dengan agency –agency yang menawarkan paket tur jalan-jalan ke pulau sekitar. Sekilas, tidak ada yang berbeda antara wajah indonesia dengan masyarakat thailand, nyaris sama. Yang membedakan adalah bahasa, mereka menggunakan bahasa thai, dan jika bicara bahas inggris, aksen thai nya sangat kental. Tapi, mayoritas masyarakat phuket mengerti dan bisa bahas inggris. Selain itu, visitor pun diberikan kartu SIM handphone lokal secara gratis, yang isi pulsanya sekitar 7 baht dan bisa diisi ulang di counter pulsa yang ada di pinggiran jalan. Oya, beberapa operator seluler indonesia bisa digunakan disini, blackberry juga bisa namun dengan harga mencekik. Kami mampir ke salah satu counter yang menawarkan paket tur ke pulau phiphi (tempat syuting the beach), mereka menawarkan paket tur keliling phiphi, maya bay dan sekitarnya dengan harga 1200 baht per orang termasuk minibus dari airport ke hotel. Setelah diskusi dan membandingkan dengan harga yang ada di internet, kami merasa harga itu terlalu tinggi, dan kami memutuskan meninggalkan bapak2 yang sudah menjelaskan panjang lebar dengan bahasa inggris cukup bagus dan jelas. Maaf ya pak!
Kami berjalan keluar sambil melihat sekeliling, beberapa supir minibus menawarkan bis nya dengan bahasa isyarat, kami pun memutuskan untuk naik minibus dengan harga 1000 baht, dibagi 8 orang masing masing membayar 125 baht.

Belakangan saya tahu, harga segitu, cukup mahal untuk semi backpacker. Tapi tak apalah, kemudian kami menikmati perjalanan bebas macet. Di tengah jalan, kami diberhentikan di sebuah ruko dan ternyata itu adalah agen tur jalan-jalan yang bekerja sama dengan minibus yang membawa para turis. Kami disodori berbagai macam paket ke pulau-pulau indah dan berbagai macam tempat menarik untuk dikunjungi di phuket. Ada 3 wanita yang menyambut kami di ruko itu, mereka tampak menguasai suasana, bahasa, dan materi. Salah satu wanita chinese tampak mendominasi dengan bahasa inggris yang ‘medhok’ thai. Dia sangat agresif dan menguasai kondisi, karena baru pertama kali, kami semua tercengang-cengang. Pada akhirnya kami memutuskan mengambil salah satu paket yang dia tawarkan, yaitu ke phiphi island dan pulau sekitarnya dengan harga 1500 baht per orang. Belakangan juga, kami tahu harga itu mahal karena paket tur sekitar hotel bisa lebih murah. Pelajaran pertama, jangan tergoda dengan penawaran paket tur di tengah jalan, pintar-pintarlah menolak dan minta pada supir untuk melanjutkan perjalanan.
Setelah membayar dan janji dijemput besok pagi, kami meneruskan perjalanan ke hotel. Kami tiba di hotel pukul 5 sore. Beruntung kami dapat hotel yang bagus dan dekat pantai, juga gampang cari makanan. Setelah merebahkan badan, kami langsung menuju pantai patong, dengan jalan kaki sekitar 2 menit-an.

Namun. Cuaca hari itu mendung, jadi pantai tidak terlalu ramai, di sana matahari terbenam lebih lama sekitar pukul 7 malam dan terbit terlambat pukul 6 pagi. Setelah menghirup udara pantai, kami berjalan pulang ke hotel untuk mandi dan bersiap-siap mencari makan malam di sekitar hotel. Eh, pas perjalanan pulang, saya tertarik dengan gerobak unik menjual pancake, indian pancake tulisannya, penjualnya sangat ramah dan cerewet lucu. Jadilah kami membeli pancake dulu sambil mengobrol dengan si ‘abang’ nya. Dia bercerita, kalau dia merantau ke phuket untuk menjual pancake, dan pulang ke india setiap 2 bulan sekali. Saya memesan banana chocolate, dengan harga 40 baht, dan asal tau saja, lebih enak banana nutella dengan harga 50 baht. Menurut saya, pancake abang india inilah yang paling enak di pulau ini, hehe.

Kemudian kami kembali ke hotel, malamnya kami mencari makanan halal (rata-rata jual porks soalnya). Sampai akhirnya kami putuskan makan di ujung jalan dengan harga yang cukup murah dan makanannya lumayan enak. Saya memesan nasi goreng ayam, dengan tampilan putih pucat dan berbau harum. Enak, gurih. Ssttt, pada akhirnya saya menyimpulkan makanan disini mengandung minyak babi. Tapi 2 malam berturut-turut saya makan malam disitu, wallahu a’alam. Bagi yang muslim, harus cukup selektif memilih makanan disini, saya sarankan membawa lauk jadi seperti abon, kecap atau sarden dari rumah dan disini tinggal membeli nasi putih. Namun bagi yang gemar kuliner, disini banyak menyediakan berbagai macam makanan unik dan khas.
 TO BE CONTINUED.......

Senin, 31 Mei 2010

cinta tak sampai...

heii..pernahkah kamu merasa simpatik sama orang tapi gak mungkin kesampaian ...Belum??
Sial! saya merasakannya...damn!! entah, rasa itu datang sendiri...hate it! cinta yg salah....pasti banyak yang tertawa sama keadaan saya sekarng ini....but, that is reality...i caNT avoid that...somebody help me!!!!!