Waktu terasa lambat disini saat menunggu keesokan harinya, karena kami akan pergi menyebrang ke pulau phiphi dan pulau cantik di sekitarnya. Kami dijemput minibus pada pukul 7.30, saleswoman kemarin menjanjikan kalau kita akan berangkat hanya ber-8 dengan minibus dan speedboat pribadi, tapi ternyata mengecewakan, dalam minibus kami ber 15 dengan 4 orang india, dan 3 orang korea/taiwan (sok tau). Oya, di phuket, selain di dominasi turis asing berkulit kuning banyak juga orang india. Rata-rata penjual di pasar/toko, penjualnya adalah orang india. Kemudian, kami sampai di pelabuhan pemberangkatan, ternyata kami akan pergi dengan 40 orang lainnya dalam satu speed boat. Setelah menunggu beberapa saat dan di briefing di salah satu pondok, kami pun berangkat dengan speed boat putih, dengan tour guide wanita bernama jenny, dan kapten/supir brewokan yang terlihat tangguh.
Saya kebagian duduk di depan persis belakang sang kapten, saya sempat melihat sang kapten komat-kamit membaca doa cukup lama sebelum berangkat. Menit pertama saya tidak betah duduk disitu karena tidak bisa melihat pemandangan keluar. Setelah salah satu teman saya maju ke depan dek terbuka speed boat saya pun membuntutinya, penasaran dengan angin dan lukisan alam di luar. Ternyata lebih indah dan nikmat disini. Kami bersama beberapa orang ‘bule’ disini menikmati angin dan lajunya speed boat. Eits tunggu dulu, ternyata sensasi duduk di dek depan belum terasa, sesaat setelah agak ke tengah laut, selain pemandangan indah kami yang duduk di depan diguncang ombak tinggi, terasa dibanting-banting, mungkin seperti naik kora-kora ya di dufan. Bedanya, kora-kora hanya 10 menitan, kalo ini hampir 2jam an sport jantungnya, luarrr biasa. Tubuh kami melantung-lantung dibuatnya seperti ommelete. Saya berusaha untuk bertahan dan menikmati sensasi ini yang tidak bisa dirasakan dari dalam boat. Kami yang berada di depan berteriak-teriak histeris ketika boat diterjang ombak. Wohoooo. Sepertinya kami jadi tontonan menarik penumpang dari dalam boat. Lama kelamaan, kami berguguran satu per satu kembali ke dalam boat. Saya merasa lelah dipermainkan ombak, juga cape ketawa. Saya pun menyerah dengan badan lemas kembali ke dalam. Tak lama kemudian, ombak ternyata semakin tinggi, kami terus melantung-lantung. Dalam hati saya berjanji tidak akan mau lagi dipermainkan ombak, sakit.
Tak lama, kami pun tiba di pulau phiphi, indah dan cantik sekali. Padahal saat tiba disana, hujan gerimis menyambut, tapi tak mengurangi pesonanya. Kami pun langsung berlari, main pasir, menyatu dengan ombak sambil tentu saja mengabadikannya ke dalam kamera. Tapi sayang, disini kita tidak lama, kami harus mengunjungi beberapa pulau lagi.
Hanya 40 menit disini, kami pun bergegas mengunjungi maya bay, monkey island, beruntung kami bisa melihat monyet dari dekat, karena terkadang monyet-monyet disini masuk ke dalam hutan. Setelah itu kami pun ber snorkel ria. Menurut saya, karang Indonesia jauh lebih bagus dari pada disini, karangnya terlihat biasa dan ikan-ikannya pun tidak terlalu beragam, tapi kami cukup menikmati airnya yang bersih tanpa sampah sedikitpun. Snorkeling pun hanya sebentar karena banyak yang tidak puas dengan karang disini, kami pun menuju ke pulau dimana kita makan siang dan bermain di pantai. Di pulau ini, kita makan bersama ratusan pengunjung lainnnya, makananaya cukup enak dan beragam dan pastinya halal. Selain itu, ada counter penjual oleh-oleh yang saya kira mahal, tapi belakangan saya tau, di pulau ini harga cinderamata cukup murah asal pintar menawar. Kami tidak beli apa-apa karena takut kemahalan dan kami pun agak repot karena dalam keadaan basah.
Waktu telah menunjukkan 16.00, waktunya pulang ke pelabuhan tadi. Boat pun melaju tanpa ada satu orang pun di dek depan. Tapi, tak lama gadis bule maju ke depan sendirian, hebat. Pengalaman luar biasa hari ini, rasanya lebih lama di perjalanan, di laut, daripada main di pantai, haha. Tapi kami tetap menikmatinya, luar biasa lukisan alam ciptaan Tuhan.
Sesampai di hotel, kami beristirahat dan kemudian turun untuk makan malam. Kami berjalan ke arah kanan ujung jalan, dan kami pun menemukan gerobak yang menjual gorengan, yang nantinya menjadi favorit jajanan kami disini. Ada 2 gerobak penjual, yang satu menjual porks, yang satu no porks. Pelajaran kedua, bagi muslim, setiap membeli makanan disini haruslah menanyakan : porks or no porks? Kami langsung menyerbu jajanan murah meriah seharga 10 baht ini, ada ikan, ayam, sapi di olah dan kemudian ditusuk seperti sate. Kemudian dicelupkan ke kuah sambel yang rasanya asem-asem pedes gurih. Enak. Setiap malam sampai pulang kami selalu mampir kesini utnuk membeli berbagai macam sate ini.
Oya, hal pertama yang harus dicontoh masyarakat indonesia. Penjual disini sangat jujur dan ikhlas, penjual satu dengan jujur mengatakan makanan yang dijualnya mengandung babi jadi beli di sebelah saja. Sehingga kami semua beralih ke gerobak sebelahnya, dan penjual itu pun tetap tersenyum meilhat kepergian kami. Hal kedua, tidak ada satupun penjual yang sembarangan membuang sampah, area gerobak jualannya tetap bersih tanpa bekas sedikitpun. Mereka berjualan pada malam hari, namun pada siangnya tidak ada sisa sampah atau minyak yang bertebaran. Begitu juga penjual di pinggir pantai. Para penjual mengumpulkan dan memungut sampah di sekitar pantai dengan kesadaran masing-masing, sehingga pantai tetap terjaga kebersihannya. Hal ketiga, supir minibus tidak mau menerima tip. Kami sempat terkejut dan kagum dengan supir bandara-hotel kami yang menolak tip dari kami dan tetap semangat membantu membawakan barang kami.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar